1st Indonesia HR Journey Expo 2017

2

regis

fee & brosur

 

 

4

5

 

Human Resources atau yang juga dikenal dengan Human Capital lahir dari sebuah proses panjang dimulai pada tahun 1901 dimana perusahaan The National Cash Register Co membentuk unit kerja HRD untuk pertama kalinya di Amerika Serikat. Pengelolaan tenaga kerja pada era abad ke 19 yang ditandai dengan awal munculnya mesin uap yang diciptakan oleh James Watt telah mendorong pertumbuhan era industry. Namun pada abad itu tenaga kerja masih dianggap sebagai beban cost perusahaan dan hanya dipandang sebagai objek bukan sebagai subjek. Pada jaman ini pula konsep pemberdayaan manusia dengan nama personnel management (manajemen personalia) mulai dikenalkan. Penerapan personnel management (manajemen personalia) ini perlahan mulai berakhir pada tahun 1960 – 1970 dikarenakan kebutuhan dalam industry semakin komplek. Sistem pengelolaan tenaga kerja kemudian beralih  kepada konsep Human Resources Management atau sumber daya manusia, dimana Pekerja dipandang sebagai asset perusahaan. Pada era ini berkembang banyak teori mengenai manajemen sumber daya manusia. Pada awal tahun 2000an dimulailah perkembangan dari manajemen sumber daya manusia dan terbentuklah bentuk baru bernama human capital management atau manajemen modal insani. Tidak begitu banyak penjelasan mengenai manajemen modal insani karena banyak kemiripan dengan manajemen sumber daya manusia. Namun, manajemen modal insani menekankan pekerja lebih dari sekadar aset, melainkan strategic partner.

Dewasa ini tantangan para praktisi HR semakin komplek dan rumit. Sebagai strategic partner mereka dituntut untuk menjadi problem solver untuk setiap permasalahan yang menyangkut mengenai tenaga kerja.  HR tidak hanya menghadapi tantangan dari internal faktor namun external factor challenge menjadikan permasalahan semakin komplek. Ketika berbicara mengenai tenaga kerja maka tidak dapat  dilepaskan dari aturan dan regulasi ketenagakerjaan yang menjadi payung hukum penyelenggaraan hubungan kerja di Indonesia. Dengan bergesernya peradaban di era milinea yang ditandai dengan era digitalisasi yang semakin kencang, aturan dan regulasi ketenagakerjaan pun seyogyanya selaras sejalan menjawab tantangan dunia baru. Namun yang terjadi Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan (UUTK) bagi sebagian kalangan dipandang kurang sejalan dengan perkembangan jaman. Sebagai contoh, didalam UUTK hubungan kerja terdiri dari status Pegawai Tetap (PKWTT) dan Pegawai Kontrak (PKWT) sehingga ketika dunia bisnis berubah kearah trend start up company dan digitalisasi maka para praktisi pun berbondong-bondong “menyiasati” regulasi dengan tujuan agar bisnis tetap berjalan dengan baik dan tidak menyalahi ketentuan perundangan yang berlaku.  Sebagai contoh, para pengemudi ojek dan taksi online, apakah termasuk kedalam kategori hubungan kerja atau kemitraan? Atau di dunia asuransi sudah lazim berlaku konsep kemitraan dengan para agent insurance nya. UUTK pun diharapkan mampu lebih flexible dalam menghadapi beragam perkembangan hubungan kerja saat ini.  Bila semua pihak masih terpaku kepada konsep dan paradigm lama maka perkembangan HR lambat laun akan mencapai titik epilog dari sebuah naskah cerita tentang bagaimana kita mengelola dan memajukan negeri melalui pengembangan Human Resources yang matang.  Oleh karenanya kita semua perlu duduk Bersama dan urun rembug untuk membahas How To Stay Relevant in The Future…?

3

 

6

 
error: